Selasa, 01 Januari 2008

Pilkada Walikota Makassar

Pilkada Walikota Makassar 2008
Oleh: M Ridha Rasyid*
Beberapa waktu terakhir di berbagai sudut kota anging mammiri terpajang spanduk, baliho, poster dari beberapa orang yang boleh dikatakan akan ikut berpartsipasi dalam pemilihan walikota Makassar mendatang. Ini sungguh menarik, karena dari sosialisasi dini yang dilakukan itu, tidak satupun dari media campaign itu memuat isue aktual, hanya sekdedar menghiaskan kata yang amat sederhana, padahal sekiranya mereka memahami makna yang terkandung dalam pemasangan reklame seperti itu, seharusnya memanfaatkannya dengan mengangkat suatu masalah yang akan menjadi mindset-nya terhadap problematika yang dihadapi masyarakat yang nota bene pemegang hak kedaulatan (juga sekaligus akan menjadi konstituen) dan pada saat yang sama, memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang bagaiman komitmen mereka dalam membuat solusi atas permasalahan yang tengah mendera masyarakat.
Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mengemuka dengan pemasangan spanduk, baliho, spanduk ataupun sticker, antara lain, pertama, hanya semata mata dijadikan media sosialisasi diri, tidak lebih, kedua, mereka bernggapan bahwa dengan pemasangan media iklan tersebut dia akan dikenal oleh masyarakat akan penapakan wajahnya, ketiga, agar ada partai yang mau "berbaik hati" merekrutnya, dan yang lebih tragis lagi ada yang ingin maju lewat jalur independen (padahal undang undangnya saja belum ada, kalaupun akan dilakukan revisi terhadap UU No 32 tahun 2994. yang diprediksikan akan selesai bulan april, maka penerapannya kemungkinan tahun 2009)
Berangkat dari alur pikir yang tertangkap dari fenomena media reklame politik yang terus bertumbuh, seyogyanya ada beberapa hal yang sejatinya dikedepankan oleh partai politik, LSM, tokoh masyarakat maupun komunitas yang punya kepedulian akan perlunya menumbuhkan demokrasi yang diaplikasikan dalam pemilihan pemimpin wilayah, antara lain, pertama, latar belakang sosial calon itu sendiri sangat perlu disosialisasi kepada masyarakat, kedua, tingkat kompetensi calon pemimpin itu, dia punya kemampuan di bidang apa untuk mengantar masyarakat semakin sejahtera dan membangun kota agar semakin maju, ketiga, bagaiamana kapabilitas network-nya, dan relationshipnya, karena kita tahu bahwa masyarakat kota itu heterogen, majemuk dengan kultur yang beragam. Kemampuan mengelaborasi perbedaan katakteristik warga kota merupakan bagian yang amat penting untuk dianalisis, sehingga dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dapat terlaksana secara bersinergis, keempat, konsep perencanaan pembangunan seperti apa yang akan dilakukan. Program dan kebijakan calon pemimpin harus secara jelas terurai, terukur dan terstruktur, kemudian memperkenaklannya kepada masyarakat (dalam proses pemilihan langsung tidak saja sosok dan figur calon pemimpin, namun juga konsep yang akan membawa dirinya untuk bekerja setelah dia terpilih) kelima, komunikasi yang terbangun dengan masyarakat, yang tidak saja pada masa kampanye atau proses demokrasi, tetapi pasca dia terpilih,ini meruapakan parameter bahwa pemimpin itu memiliki kredibilitas yang cukup untuk mengembangkan interaksi dengan masyarakatnya.
Banyak hal yang seyogyanya dipikirkan,direnungkan dan diimplementasi dalam tataran pesrsiapan yang lebih baik harus dilakukan oleh mereka yang mau menjadi pemimpin, tidak saja bertumpu pada pengaruh kepada partai politik yang akan mengusungnya, juga bukan sekedar mengandalkan kedekatan dengan penguasa di atasnya, bikan pula finansial yang berlebihan. Bukan itu. Pemimpin yang dibutuhkan oleh rakyat adalah pemimpin yang cerdas, bermoral, enegik, punya ide ide brilliant dan hubungan yang berkesinambungan dengan rakyatnya.
Apatah lagi kita tahu bahwa Kota Makassar yang merupakan ibu kota propinsi sulsel dan pintu utama memasuki kawasan Indonesia bagian timur, maka amat penting seorang calon pemimpin mempunyai kemampuan mengoordinasikan dengan jenjang pemerintahan yang ada, hubungan dengan daerah penyangga, dan terpenting lagi mendorong masuknya investasi, supaya masyarakat kota mendapatt akses lapangan kerja.
Isue Menarik
Hampir semua daerah yang telah melaksanakan pilkada, hanya dua tema isue utama yang senantiasa mengemuka, yakni pendidikan dan kesehatan. Padahal kita amat mengerti bahwa kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi sebuah pemerintahan dimanapun di dunia ini, antara lain kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan keamanan. Artinya jadi jargon atau bukan itu wajib dilaksanakan. Karenanya, pemimpin yang cerdas sepatutnya mencari isue lain yang akan membawa kota itu semakin maju, berkembang dan dapat diperhitungkan oleh daerah lain bahkan dikawasan regional. Bukan sekedar mencaplok pada tema usang dan tidak menarik. Disinilah dapat diukur, bahwa Indoensia (termasuk daerah) tidak akan pernah bisa maju, karena hanya bermain pada isue "kerdil" bukan isue besar dan strategis.
Sekal lagi, Kota Makassar membutuhkan orang brilliant, mau bekerja keras, mengedepankan kepentingan masyarakat (bukan hanya pemenuhan kebutuhan dasarnya) tetapi juga memajukan dan memakmurkan rakyatnya, menganggap rakyat sebagai subyek, bukan hanya obyek pembangunan, mendorong tumbuhnya partisipasi swasta dan masyarakat yang lebih besar, serta memiliki moralitas dasar yang baik.Pemerintahan yang dipimpin oleh orang yang cerdas tidak menjadikan pemerintahannya sebagai sumber dana pembangunan, tetapi sumber ide bagus yang akan diperebutkan oleh dunia usaha untuk mengaplikasinnya.
*Praktisi dan Pemerhati Pemerintahan

Tidak ada komentar: