MONEY POLITIC DAN COST POLITICAL
Oleh: M. Ridha Rasyid
Pameo yang menyatakan bahwa money politic sangat sulit dibuktikan, sengaja diciptakan untuk melegitimasi perbuatan tersebut. Seolah olah ada pembenaran di dalamnya, sehingga tidak perlu dipermasalahkan ketika itu terjadi. Kerapkali pernyataan bahwa terjadinya money politic adalah suatu perbuatan yang sudah seyogyanya terjadi, tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi dari sebuah kerja untuk mencapai tujuan, Machiavelli, dalam bukunya yang sangat terkenal Le Prince (Sang Pangeran), bahwa untuk mencapai sesuatu anda dapat melakukan apa saja, yang penting tujuan tercapai. Kemudian statement ini sangat populer bahwa politic, sebagaimana halnya dengan money politic, menghalalkan segala cara untuk sebuah kursi kekuasaan.
Seiring dengan pelaksanaan pemilu lokal, yang kerap disebut Pilkada akan mulai bergulir akhir Juni 2005, yang akan digelar di sejumalah kabupaten/kota maupun propinsi, yang oleh Mendagri menyatakan, kemungkinan 23 kabupaten/kota bermasalah sehingga sangat mungkin terjadi pengunduran, money politic menjadi kata yang sangat antusias digunakan oleh kelompok, organisasi, perorangan atau institusi lainnya. Pertanyaannya kemudian, apakah memang money politic sesuatu yang “haram” ataukah hanya sengaja dilemparkan orang yang punya modal “seret” sehingga menganggap orang berpunya menggunakan uang demi meraih simpati masyarakat adalah perbuatan salah, ataukah, diatur sedemikian rupa dalam tata nilai budaya bangsa ini, atau secara eksplisit diatur dalam undang undang dalam segala segmen kehidupan. Nampaknya hal ini sangat samar samar. Yang sangat jelas dalam aturan adalah korupsi. Tapi, kita tidak membicarakan korupsi, yang kita ingin perjelas disini, adakah uang tidak boleh menyentuh aspek pendekatan dalam mensosialisaikan diri, sementara dalam kehidupan nyata, uang menjadi satu satunya alat beli yang secara sah dapat digunakan di mana saja. Apakah benar, uang tidak boleh menyentuh persoalan politik. Itu omong kosong, kata sahabat saya. Anda, katanya tidak bisa menghindar dari uang, bahkan seringkali uang adalah segala galanya. Lihat saja, polling yang dilakukan oleh sejumlah surat kabar di berbagai daerah, yang jika anda mampu membeli sejumlah oplah surat kabar dan guntingan yang anda masukkan dalam kotak polling, maka persentase perolehan suaranya akan meingkat. Apakah itu masuk kategori money politik yang lebih canggih, atau janji melalui sms yang bila anda menuliskan kalimat indah nan bersayap yang lalu dibaca orang akan memberi pengaruh signifikan terhadap terbentuknya opini publik?
Antara money politic ataupun cost political, sangat tipis perbedaannya. Hampir sulit didefinisikan apa sesungguhnya money politic. Dan apakah itu salah, tidak bertika atau apapun namanya, semuanya terpulang kepada individu ataupun kelompok yang melakukannya. Sama halnya dengan cost political, ssuatu yang wajib jika anda hendak meraih sesuatu. Ibarat sebuah pabrik, maka untuk membeli bahan baku, biaya produksi maupun pemasarannya membutuhkan ongkos (cost). Amtsal ini, sama ketika ingin bergumul dalam kancah politic, kita membutuhkan ongkos, untuk memberi berbagai pernik pernik alat peraga sebagai medium memperkenalkan diri. Berbagai upaya, cara, metode maupun media yang digunakan, yang kesemua muara tujuannya meraih simpati masyarakat, mengharap agar rakyat menjatuhkan pilihannya kepada mereka. Kepada calon yang diunggulkan, dan itu semua sah sah saja.
Kalau kita kembali ke money politic, apa betul tidak dapat dibuktikan? Saya termasuk sangat curiga kepada siapapun yang acapkali mengatakan demikian. Money politic sangat bisa dibuktikan. Alat bukti itu tidak selalu harus di atas kertas, pengakuan seseorang pun menjadi alat bukti yang patut menjadi pertimbangan, ataupun penelusuran aliran dan penggunaan dana, terlebih lagi kalau kita dapat mengaplikasikan azas pembuktian terbalik. Hanya sayang dan celakanya, memang, azas ini seperti di awang awang, kita alergi melakukannya, tidak punya komitmen kuat untuk mengimplementasikannya. Jadi, apapun adanya money politic harus dipandang dalam dua sisi, positif dan negatif. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Sama dengan cost political, kalau tidak secara transparan dan akuntabilitasnya dapat dijamin ia akan menggelincirkan masuk dalam money politic. Olehnya itu, dibutuhkan kecanggihan dalam memilih dan memilah, apakah ia tergolong spesies money politic ataukah anak turunan dari cost political.
Yang jelas, bahwa memasuki arena pemilu lokal tersebut, institusi pengawasan, baik itu panitia pengawas, maupun segenap elemen masyarakat yang menaruh perhatian terhadap tumbuhnya demokrasi diperlukan dalam memberikan apresiasi maupun respon terhadap penyelenggaraan pemilu lokal ini, agar kita tidak terjebak pada adagium yang disampaikan Machiavelli itu. Ataukah memang kita “gemar” dan menjadi salah satu pengikutnya? Saya sangat yakin tidak, dan andapun dengan tegas mengatakan, No. Namun, semua kembali kepada fakta. Money politic atau cost political bukan persoalan pokok. Yang utama adalah, akankah kedaulatan rakyat akan kita beli dengan harga murah, kemudian membuat rakyat akan menderita dan menyesalinya sepanjang waktu, ataukah rakyat yang menjual kedaulatannya demi kebutuhan sesaat mereka. Mudah mudahan tidak. Dan wahai para kandidat yang akan maju dalam pemilu lokal, boleh memakai cara beradab, beretika, bermoral, cara yang berseni yang berdampak kepada tumbuhnya harmonisasi dan keindahan yang dapat dinikmati sebagai pencerminan aktualisasi diri. Dan tanamkan dalam diri jangan melakukan money politic, berhati hati dalam menyiapkan dan merealisasikan cost political itu, karena jangan jangan ia tergolong mahluk money politic yang sangat kita benci, meskipin secara faktual sudah menjadi budaya dalam setiap sendi sendi kehidupan.
Minggu, 06 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar