Minggu, 06 Januari 2008

HOTLINE-HOTDOG-SMS
Oleh: M.Ridha Rasyid

Paling tidak, para kandidat yang bertarung dalam pemilu lokal (pilkada-sung) yang akan terpilih nantinya, harus siap membuka telephone hotline atau mengumumkan nomor ponselnya agar dapat diakses masyarakat, disamping tentunya makanan serba rasa akan disajikan diruang kerjanya, kelak. Ini trend baru yang lebih praktis dibanding pembukaan PO BOX 5000, misalnya yang juga pernah dibuka oleh pemerintah. Pertanyaannya, kalau semua pejabat publik membuka nomor telephone berbeda atau nomornya itu dikaitkan dengan tanggal, bulan dan tahun kelahirannya, apakah ini bukan sesuatu yang menunjukkan arogansi dalam bentuk lain, apakah tidak, misalnya bekerjasamanya dengan semua operator yang menyiapkan nomor yang sama dengan kode berbeda sesuai dengan daerahnya masing masing. Sehingga, ada keseragaman antar daerah dan itu mudah diingat masyarakat?. Jadi semacam Hotline Centre atau Short Message Service (SMS) Centre yang dapat diakses secara nasional. Teknologi Informasi (TI) tidaklah sulit, karena terbukti seperti yang dilakukan oleh PT Telkom dengan 147-nya yang segera dijawab secara otomatis oleh Answer Machine. Ini perlu menjadi pertimbangan bagi pengambil keputusan dan bekerjasama dengan operator telepon maupun provider kalau dia membuka internet. Jadi tidak sekedar latah seperti sekarang, namun itu telah dipersiapkan secara matang. Pertanyaan lainnya, bagaimana prosedur dan mekanisme penanganan masalah yang disampaikan masyarakat dapat ditindak lanjuti? Karena melalui pesan singkat atau penyampaian secara lisan melelui telepon, apakah akurasi data dapat dipertanggung jawabkan. Sebagai contoh. di Amerika Serikat ada telephone emergency (darurat) yang dapat dihubungi oleh siapapun disemua negara bagian , 911, untuk menyampaikan kondisi yang dihadapi yang dapat mengancam keselamatan mereka. Kenapa kita tidak membuat hal yang sama?. Mengapa harus dengan nomor cantik yang menunjukkan simbolitas individu yang dapat melahirklan kesombongan yang bersangkutan, Belum lagi efektifitasnya patut dipertanyakan. Ini merupakan fenomena menarik yang perlu disimak lebih jauh dalam membuka komunikasi atau ruang berinteraksi dengan masyarakat atas berbagai pelayanan yang disediakan pemerintah, pada saat yang sama, di tengah tengah gizi buruk dan busung lapar ataupun berbagai penyakit yang diakibatkan oleh nutrisi yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh seseorang yang seharusnya dikonsumsi serta sedang dihadapi sebagian anak bangsa untuk juga mendapat perhatian dari kalangan elit pemerintahan agar tidak berpesta pora dengan makanan serba mewah, hotdog dan semacamnya. serba gizi dan tentu biayanya tidak sedikit, sementara disekelilingnya. rakyat masih ada yang makannya sangat teratur. Saking teraturnya, makan hari ini besok tidak dan seterusnya serta tidak memenuhi 4 sehat 5 sempurna.
Telephone hotline maupun ponsel untuk mengirim SMS dalam hal tertentu, yang tidak membutuhkan data serta bukti bukti administratif awal yang dapat disampaikan, menjadi sesuatu yang tidak berguna, karena tentu saja tidak dapat di follow up, dan itu membutuhkan waktu lama untuk mengambil segera tindakan, padahal, sebagaimana fungsi ke dua jenis layanan informasi adalah praktis, sederhana, mudah dan cepat menjadi simbolitas dari penyampaian pesan., kecuali kalau memang ada kesiapan dan tenaga khusus serta jaringan yang jelas dan meliputi semua institusi yang berkaitan dengan pelayanan yang disediakan serta telah menyiapkan prosedur dan mekanisme yang jelas, maka artinya ke dua jenis layanan informasi ini telah dinyatakan siap. Tetapi kalau hanya peranyataan “pesan anda telah kami terima dan akan segera ditindak lanjuti” tetapi tidak ada media yang dapat diakses untuk menunjukkan bahwa benar benar kasusnya telah tertangani, maka, sesungguhnya ini tidak memberi manfaat banyak melainkan hanya kepuasan batin sesaat yang dirasakan rakyat yang telah menyampaikan uneg unegnya. Oleh karena itu, harapan kita, tentu saja, kiranya ini tidak sekedar new trend, tetapi sebuah alternatif solusi yang telah dipersiapkan secara matang dengan kapasitas yang memadai. Jangan jangan karena over load, malah semua pesan tidak terbaca sebab ponselnya mengalami hang atau kerusakan. Ini tentu saja, hal hal yang bersifat teknis perlu mendapat perhatian serius, dan senantiasa diumumkan kepada masyarakat secara berkala bahwa semua pesan atau penyampaian secara bertahap akan mendapat penanganan sesuai kasus yang disampaikan, tanpa perlu ada skala prioritas, karena ini bisa terjadi penumpukan masalah, sama dengan ribuan kasus di Mahkamah Agung yang bertahun tahun tidak dapat diselesaikan. Sama halnya dengan gizi buruk dan busung lapar yang sedang dialami anak bangsa disejumlah daerah, jangan justru otonomi daerah yang dikambing hitamkan di tengah tengah tidak adanya perhatian tinggi dari pemerintah disektor kesehatan, padahal kita ketahui bersama bahwa kesehatan adalah salah satu kenbutuhan dasar yang wajib disediakan oleh pemerintah dengan sistem apapun yang digunakan didunia ini. Jadi mengapa otonomi daerah-nya yang disalahkan. Disinilah letak kepicikan kita dalam menilai dan mengimplementasikan sesuatu dengan cara mudah dan amburadul. Semoga para kandidat menjadikan hal ini pelajaran berharga, dan membuat program yang lebih baik seta belajar dari pengalaman buruk yang pernah dilakukan pemimpin sebelumnya untuk tidak terulang lagi, dan harus berani bertanggung jawab, jangan malah melemparkan tanggung jawab itu kepada sesuatu yang maya, yang tidak jelas, karena sesunggunya pemimpin seperti ini bukan dambaan rakyat, tidak mencintai rakyat dan melindungi rakyat, jangan harap rakyat akan berpihak kepada pemimpin seperti ini. Saya sangat yakin itu.

Tidak ada komentar: