HATI NURANI
Oleh: M. Ridha Rasyid
27 Juni 2005 di sejumlah daerah kabupaten/kota dan propinsi di Indonesia melakukan pemilihan langsung kepala daerah (pilkada-sung) atau sering saya sebut dengan pemilu lokal. Harapan kita semua, tingkat partisipasi rakyat dalam menggunakan hak pilihnya lebih meningkat dibanding pemilu legislatif maupun pemilu presiden/wakil presiden beberapa waktu lalu. Betapa tidak, menurut sebagian pengamat, bahwa ini untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan Indonesia, kepala eksekutif pada semua tingkat telah dipilih langsung. Optimisme itu diukur pada antusiasme sebahagian masyarakat dalam memilih calon pemimpin yang berkualitas, kapabel, kapabilitasnya dapat dipertanggungjawabkan, dan tentu saja figur calon calon tersebut merupakan hasil penyaringan yang sangat selektif, sehingga masyarakat merasa terayomi dengan kehadiran pemimpin yang merupakan hasil dari pilihan rakyat sendiri. Di pihak lain, ada yang mensinyalir bahwa kemungkinan besar tingkat partisipasi rakyat justru akan menurun, sebab mungkin rakyat sudah jenuh dengan cara cara yang melibatkan rakyat dalam pemilihan, namun pada saat yang sama, keberpihakan sang calon pemimpin berkebalikan dari apa yang menjadi harapan rakyat. Terlepas dari opini yang mengemuka di atas, hal hal yang makin mendekatkan rakyat terhadap keberadaan eksekutif adalah rasa tanggung jawab pemimpin kepada rakyatnya akan semakin besar, semakin kongruen dengan keinginan membangun demokrasi, disamping sejauh apa yang dapat dilakukan pemimpin terpilih untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya, pelayanan publik apa yang dapat diterapkan sehingga rakyat merasa terpenuhi hak haknya, serta rasa aman, nyaman dan terjaga keamanan dalam beraktifitas serta terpenuhinya kebutuhan minimal selaku rakyat yang wajib disediakan oleh pemerintah. Apa yang disebutkan itu, pada umumnya telah dikemukakan para kandidat dalam visi dan misi yang dipaparkan melalui kampanye yang dilakukannya. Sekarang, bagaimana rakyat menyikapi sosok calon sang pemimpin dan menentukan pilihannya.
Hati Nurani
Kata ini teramat populer dan senantiasa didengung dengungkan oleh banyak kalangan termasuk penyelenggara pemilu lokal, bahkan mereka yang terusung dalam pemilihan kepala daerah langsung ini. Namun apa lacur, bagaimana sesungguhnya hati nurani rakyat itu dipahami dan diimplementasikan dengan memberikan pandangan dan ulasan serta penjelasan kepada rakyat malah berbanding terbalik apa yang dibuat oleh tim sukses calon bahkan sang calon sendiri kepada rakyat. Contoh kongkritnya adalah yang terjadi di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Seperti yang ditayangkan SCTV beberapa hari lalu, dengan sangat jelas dan cenderung vulgar, calon dan tim suksesnya membagi bagi uang pecahan Rp 20. 000 kepada mereka yang menghadiri pemaparan visi misinya disebuah tempat. Dan tidak sedikit daerah lain melakukan hal yang sama hanya tidak terekspos dan dalam bentuk yang berebeda. Dengan dalih memberi sumbangan kepada panti asuhan, masjid, majelis taklim, kelompok maupun organisasi yang justru marak menjelang pemilu lokal ini. Pertanyaannya, kenapa baru sekarang? Padahal sebelum yang bersangkutan maju dalam pemilihan justru sangat “pelit” dalam mengeluarkan uangnya. Sekarang, ia menjadi orang yang sangat ringan tangan. Ada apa dibalik itu. Lantas di mana sebenarnya hati nurani itu tersimpan ketika rakyat sudah terbeli kedaulatannya, dan ada sekompok masyarakat yang juga menjual kedaulatan itu dengan harga yang murah tanpa moralitas, tanpa memiliki rasa malu. Ini ironi yang memprihatinkan di tengah tengah mengajak kita semua menggunakan hati nurani. Menurut hemat saya, hati nurani terimplementasi bilamana rakyat telah mendengar melihat serta mempertimbangkan calon, juga komitmen mereka dalam menyelenggarakan pemerintahan kelak, kemudian dengan ikhlas memilih diantara kandidat kandidat yang dilihat serta didengar rakyat. Hati nurani tidak mungkin di jual, tidak mungkin dimanipulasi dengan berbagai cara, hati nurani juga mencerminkan kebesaran jiwa rakyat menentukan pilihannya. Duit tidak identik dengan hati nurani, fulus itu membunuh hati nurani. Betapa banyak kemaksiatan, kebiadaban, keserakahan, ketamakan, kehausan berkuasa dibalik uang. Namun, bukan itu hati nurani, rakyat hendaknya menggunakan pertimbangan rasional lalu membisikkan ke dalam lubuk sanubari yang paling dalam, maka apa yang kemudian oleh tangan tangan dalam menjalankan perintah otak dengan mengedepankan rasionalitas dan dibisikkan oleh hati, maka itulah sesungguhnya hati nurani. Jangan kelabui hati nurani kita dengan orasi kalimat kalimat indah dan diselubungi oleh penampilan yang direkayasa, yang kemudian rakyat akan terintimidasi nantinya. Wahai saudara saudara sesama rakyat, inilah momentum yang krusial dalam mengejawantahkan hati nurani agar memilih pemimpin pemimpin yang mencerminkan keinginan rakyat. Wahai para sang calon, hari ini nasib anda ditentukan, terlepas dari cara apapun yang pernah anda lakukan selama mensosialisasikan diri dan programnya, tetapi hendaknya menerima dengan lapang dada apapun kemudian yang dipilih oleh rakyat. Rakyat menggunakan pilihannya itu dengan menurut caranya, mudah mudahan itu dieselimuti hati nurani, sekali lagi hati nurani, semoga.
Minggu, 06 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar