OPTIMALISASI BASE RESOURCES
DALAM MENINGKATKAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Oleh: Ridha Rasyid
Paling tidak dua persoalan pokok yang selalu menarik untuk diperbincangkan ketika kita membicarakan permasalahan pembangunan ekonomi khususnya di sektor riel, misalnya investasi, yang pertama, adalah fenomena munculnya kroni kapitalisme yang bermuara pada penguasaan oleh satu orang atau beberapa orang terhadap sub sektor produksi yang sering disebut monopoli, dan ke dua adalah infrastruktur yang relatif kurang dan belum representatif yang berkebalikan sehingga tidak mampu mendorong ketertarikan investor untuk menanmkan sahamnya. Ini diungkapkan oleh H.B Amiruddin Maula ketika saya berkunjung ke ruang kerjanya di Badan Promosi Penanaman Modal Daerah Propinsi Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu. Dikatakannya bahwa untuk menganeksasi ke dua persoalan inti ini, maka beberapa hal perlu mendapat perhatian oleh pemerintah, pengusaha maupun dikalangan pelaku pendukung yang berkecimpung dalam base resources yang dimiliki suatu daerah maupun negara, antara lain, katanya, perlu adanya political will yang yang tidak hanya berwujud komitmen namun disertai policy well yang mencerminkan komitmen kuat tersebut. Juga, diuraikannya bahwa competitiveness menjadi sangat penting, karena dari sinilah terlihat betapa sektor produksi mampu bersaing dari berbagai aspek, seperti tingkat produksi, kualitas dan pemasaran hasil produksi, di samping urgennya membuat sejumlah regulasi serta perangkat peraturan lainnya yang menunjukkan jaminan berusaha yang pasti, kondisi aman yang kondusif, dan hal vital lainnya yaitu pemberian kompensasi atau dispensasi, sehingga bisa menyemangati para pelaku usaha untuk masuk ke suatu daerah memberikan andilnya dalam menggerakkan perekonomian. Memang, di sadari bahwa, oleh karena kewenangan terbatas yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah, namun bukan berarti itu menjadi causa prima dari lambannya pertumbuhan sektor usaha di daerah, tetapi majemukisasi persoalan dihadapi yang bukan hanya oleh pemerintah tetapi juga di kalangan pelaku usaha, kredit perbankan dengan bunga tinggi juga menjadi salah satu faktor penyebab melemahnya minat pelaku usaha untuk melakukan ekspansi usahanya, yang karenanya perlu dicarikan alternatif solusinya.
Produk Andalan
Hasil pertanian, perikanan dan kelautan, pertambangan, perkebunan, industri manufatur yang jika ditangani dengan baik dan disertai adanya keberpihakan pemerintah serta ditangani secara berkelanjutan, sesungguhnya merupakan kapital yang bisa mengangkat harkat dan martabat petani, pada saat yang sama, bisa meningkatkan devisa negara. Oleh karena itu, pengwilayahan komoditas unggulan harus segera dilakukan secara komprehensif dan terencana. Kita tidak bisa lagi mengandalkan produksi massal atas satu jenis pertanian pada satu wilayah, sebab sangat tidak mungkin, misalnya, kalau dalam satu daerah hanya satu jenis komoditas yang ditanam beramai ramai oleh masyarakat. Untuk itu, maka diperlukan kajian dan analisis mendalam yang ditinjau dari beberapa aspek dan karakterik sosilogi masyarakatnya, di samping berupaya menerapkan penggunaan teknologi pendukung.
Dari studi banding yang dilakukan oleh nyaris semua daerah di Indonesia pada negara negara yang dikunjunginya tidak memberi manfaat apa apa terhadap peningkatan produksi dan eksplorasi maupun eksploitasi sumber daya alam, sebab tidak diiringi dengan konsep yang jelas dan implementasi pasca kajian itu, sehingga kita tidak memperoleh hasil yang cukup signifikan. Apa yang kemudian dilakukan oleh pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, contohnya, dengan pencanangan program Gerbang Emas-nya dengan memberi priority terhadap 4 komoditas yang diunggulkan, tidak sekedar menjadi tataran konsep atau wacana belaka, namun juga memerlukan tindakan nyata yang secara matang telah diperhitungkan multi player effect-nya, sehingga masyarakat petani maupun petambang serta pelaku industri bisa memperoleh keuntungan. Sungguh pun demikian, hal lain yang perlu diperhatikan adalah tenaga kerja terampil serta infrastruktur khususnya jalur transportasi menjadi sangat vital sebagai pendukung untuk turut ditingkatkan.
Jalur transportasi ke depan yang diharapkan adalah pembukaan jalur langsung atau/dan mempersingkat jalur menuju tujuan ekspor. Kalau selama ini ekspor produsi yang dihasilkan propinsi Sulawesi Selatan, misalnya, harus melalui Pelabuhan Laut Tanjung Perak atau Tanjung Priok, juga Bandara Juanda, Ngurah Rai, maka apa yang kita miliki perlu lebih ditingkatkan sehingga lebih memadai dan representatif serta pelayanan perlu pula ditingkatkan. Terutama penyediaan kontainer dan ketepatan jadwal pengangkutan.Mengapa hal ini perlu dikemukakan, Indonesia pernah mendapat julukan Miracle Economic Of Asia dengan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi 7-9% tahun 1987-1994, dan menjadi negara yang berswasembada beras. Macan Asia diantara negara Singapura, Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Malaysia serta Thailand, namun kita terpuruk pada tahun 1997 yang diakibatkan oleh fundamental ekonomi kita yang rapuh, yang tadinya selalu diklaim sangat kuat untuk menghadapi badai resesi. Oleh sebab itu, hanya dengan mengacu pada angka pertumbuhan sesungguhnya tidak bisa menjadi satu satunya instrumen penilaian menelisik kondisi perekonomian, jauh lebih penting lagi, adalah sejauh mana kita mampu memberi respon terhadap upaya peningkatan produksi di sektor sektor yang menjadi andalan, seraya seluruh pendukung yang memungkin adanya ketahanan produksi menjadi sesuatu yang absolut untuk dilakukan, serta adanya regulasi yang jelas, stabilitas politik, keamanan, kepastian hukum.
Produk andalan pada setiap daerah tersebut kemudian dibuatkan akumulasi produksi yang terencana, terpadu serta terkoordinasi. Contoh, untuk Sulawesi, produk hasil pertanian seperti, jagung, kelapa sawit, sutera, garam, coklat, dan padi yang bila dikelola secara baik, dengan teknologi pertanian yang sesuai dengan karakter petani di dareah ini bisa dioptimalkan dan memiliki daya saing. Begitu juga dengan kawasan Sumatera, Jawa, Kalimantan Bali dan Nusatenggara, sehingga kita bisa melakukan skala prioritas atas produk hasil pertanian, industri dan pertambangan yang menjadi primadona masing masing wiilayah komoditas. Jangan apa yang diproduksi di Sulawesi, misalnya, juga menjadi produksi di Kalimantan. Banyak contoh yang bisa kita lihat, seperti Thailand dengan produksi berasnya, juga sama dengan Vietnam, sehingga mereka di kenal dunia dengan pengolahan padinya yang punya daya saing yang handal. Malaysia dengan Karet-nya. Kita tidak boleh hanya bertumpu pada produsi minyak mentah, karena sumber daya alam ini akan habis dan tidak dapat diperbaharui, sehingga suatu saat menjadi pengimpor terbesar minyak, yang saat ini kita masih bisa mengekspor walaupun sudah relatif menurun dari 1,2 juta barrel perhari menjadi hanya sekitar 900.ribu barrel saja. Sepanjang tidak ada eksplorasi baru dan penemuan ladang minyak, estimasinya akan habis pada kurun waktu tujuh dekade mendatang. Mungkin dari Gas masih banyak stok yang masih tertimbun diperut bumi Indonesia, tetapi sekali lagi, tanpa ada upaya upaya yang maksimal untuk mengelola sumber daya alam lain yang bisa diperbaharui, seperti sektor pertanian, maka kita menjadi negara pengimpor terbesar di dunia dalam semua hasil produksi yang dibutuhkan rakyat. Tentu kita sangat tidak mengharapkan hal ini menjadi kenyataan. Oleh sebabnya, dengan melaukan ekstensifikasi dan intensifikasi hasil pertanian, perindustrian serta sumber daya alain yang belum ditemukan, sangat penting artinya untuk diberi perhatian yang kesemua muranya menyelematkan bumi ini dari ketidakjelasan pengelolaannya yang hanya akan mubasir sahaja. Adanya kesemaan persepsi antara pemerintah, pelaku usaha dan pekerja menjadi satu kesatuan yang seyogyanya bekerja terpadu untuk memberi manfaat seluas luasnya bagi masyarakat, pada saat yang sama, memberi image positif terhadap adanya persaingan sehat diantara negara negara yang masuk dalam WTO, misalnya. Jadi kita tidak selalu dianggap sebagai bangsa yang konsumtif namun sesungguhnya juga kita amat produktif. Semoga
.
Minggu, 06 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar