GEMPA BUMI, BADAI TSUNAMI, BANJIR DAN TANAH LONGSOR SEBUAH PEMBELAJARAN
Oleh: M. Ridha Rasyid
26 Desember 2004, Aceh dan Sebagian Sumatera Utara diterpa bencana maha dahsyat, yng boleh jadi merupakan salah satu tanda yang akan dialami oleh semua mahluk dipermukaan bumi sebagai “kiamat kecil”. Sebagai titik fokus gempa yang berkekuatan 8,9 pada skala richter, dan gelombang laut yang mencapai pohon kelapa, merupakan gempa terbesar kelima dalam kurun waktu satu abad terakhir dan merupakan gempa keempat terbesar sejak tahun 1964. Disusul lagi dengan gempa bumi yang terjadi Jogya dan sebagian Jawa Tengah dengan kekuatan 5,2 pada skala ricther yang mengakibatkan korban jiwa lebih 5000 orang dan ratusan ribu orang lainnya kehilangan tempat tinggal karena hancurnya rumah rumah mereka, prasarana dan infratruktur lainnya yang juga mengalami nasib yang sam. Menyusul banjir dan tanah longsor di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti di Sinjai, Bone, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto yang juga ikut menewaskan kurang lebih 200. orang. Yang terjadi di Aceh dan Nias korban hampir mencapai 200. 000 orang lebih, dan lebih dari 125 000 dinyatakan hilang disemua wilayah yang terkena dampak gempa dan badai tsunami yang berpusat di Aceh. Kampung kampung luluh lantak, rata dengan tanah, tidak kurang empat kabupaten dan kota Banda Aceh terendam air, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dari sebuah tanah yang dijuluki Serambi Mekah. Untuk membangunnya kembali dibutuhkan waktu yang lama dan biaya yang sungguh besar, paling tidak 11 triliyun rupiah dibutuhkan untuk memperbaiki infrastruktur dan rumah rumah penduduk yang hancur. Belum lagi, dampak langsung terhadap mewabahnya penyakit pasca gempa dan badai tsunami, yang boleh jadi trauma rakyat Aceh dan sebagian Sumatera Utara akan berkepanjangan.
Ini merupakan bencana yang amat memilukan bagi siapa saja di muka bumi. Sungguh sangat memprihatinkan kita semua. Derita berkepanjangan akan senantiasa menghiasi relung relung hati setiap orang Aceh dan sebagian di Sumatera Utara dan diwilayah lain yang mengalami hal yang sama. Dan, mungkin bagi bangsa ini akan selalu mengenangnya, sebagai malapetaka yang tak pernah terkirakan sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang membuat anak bangsa menjadi penuh perhatian, berkerja sama dalam kebersamaan, kegotong royongan menyeruak menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang menghargai sesama, menolong sesama, merasakan penderitaan yang dialami saudara saudara kita. Terlihat betapa semua elemen dari bangsa ini memberi dan menampakkan solidaritas yang demikian tinggi, tidak terbatasi oleh perbedaan suku, keragaman dalam keberagamaan, bahasa yang lain, serta adat istiadat yang bercorak dan beragam. Semuanya bersatu padu membantu saudara saudara kita di Aceh dan sebagian wilayah Sumatera Utara. Inilah wujud kebhinekaan yang tunggal. Bangsa besar adalah bangsa yang mempertautkan hati diantara sesama, sama halnya yang terjadi jogya, Jawa Tengah, Sulsel, Sulut dan sebagian Kalimantan.
Indonesia Menangis, Indonesia Berduka, Indonesia Berkabung, Indonesia yang Lara. Aceh Menjerit, Aceh Berkeluh Kesah meratapi bencana yang menimpanya, Aceh dan sebagian Sumatera membutuhkan uluran tangan meringankan beban penderitaan yang teramat berat sepanjang sejarah keberadaan Indonesia. Aceh dan sebagian Sumatera Utara butuh bantuan, bantuan materil dan dorongan semangat untuk bangkit kembali dari puing puing reruntuhan bangunan dan jiwa mereka, hati mereka yang tersayat sayat oleh kesedihan tiada akhir membutuhkan tausiah dan takziah dari anak bangsa, dari saudara saudaranya. Hanya dengan itu kita bangun kembali Aceh dan sebagian Sumatera Utara, mengutuhkan bangsa ini. Kita tidak boleh meratapi nasib saudara saudara kita. Kita harus bangkit dan berdiri untuk menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang tegar, bangssa yang kuat, dan bangsa yang tidak pernah terbuai oleh apapun yang terjadi disekelilingnya, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Yang tidak pernah terlena oleh segala bentuk cobaan, karena bangsa ini menyandarkan sepenuh keyakinan hidupnya kepada maha Sang Pencipta. Tuhan yang memiliki hak memberi penghidupan maupun kematian. Allah yang senantiasa terpatri dalam hati manusia, bahwa sesungguhnya kita adalah hambanya. Dialah yang mengatur dan menetapkan takdir dari perjalanan hidup anak manusia. Iman dan keyakinan menghiasi bangsa ini sehingga ia dapat eksis dalam menapak kehidupannya.
Bencana adalah Pembelajaran
Setiap cobaan dapat ditarik hikmah dibalik kejadian. Karena tidaklah bencana itu datang serta merta. Kita harus membangun introspeksi dalam diri kita masing masing. Betapa kita tidak mempunyai hak untuk menuduh siapapun dibalik kejadian, besar atau kecil. Kita mengembalikan kepada individu dari apa yang terjadi disekeliling kita. Ada malapetaka karena proses perputaran bumi yang sudah seharusnya demikian, ada pula yang diakibatkan oleh ketidak-adaan perhitungan yang cermat dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi potensi yang terkandung dalam bumi. Bukan berarti kita dilarang untuk mengambil potensi bumi, tapi hendaknya kita memperhitungkan seberapa jauh dan cara bagaimana kita memperlakukan bumi ini untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan umat manusia. Tidak pula kita dilarang untuk mencarinya, tetapi seyogyanya jangan mengurasnya. Sudah banyak contoh dari akibat perlakuan dan cara mengelola hasil bumi yang justru menjadi badai bagi kita. Dan sepatutnya pula kita belajar dari semua yang pernah terjadi, dari yang pernah dialami oleh banyak orang disemua wilayah dimuka bumi ini, sehingga itu bisa membuat kita lebih hati hati, lebih cermat serta lebih beradab dalam memperlakukan potensi bumi. Kita harus belajar dan mengambil hikma dari semua itu, karenanya adalah mereka yang dapat mengambil pembelajaran daripadanya yang bisa melakukan pencerahan dan bumi bersahabat dengan kita. Kita tidak boleh berada dalam posisi yang pongah, sombong dan tiada akhir dalam menguras potensi bumi, kita pula tidak saja diharapkan untuk sejahtera dan makmur, sementara ada mahluk lain yang menderita karena ulah dari tangan tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Kita harus mampu menggauli setiap peradaban dan tata cara dalam menyelenggarakan kehidupan ini, sehingga keberadaan kita sebagai salah satu mahluk yang diberikan hak hidup untuk mendiami bumi, yang juga ada hak oleh mahluk lain untuk saling bekerjasama, saling menghargai meskipun tidak sama dalam berkomunikasi dan bahasa lisan kita, namun sesungguhnya mahluk di luar manusia adalah kelompok yang mendukung kehidupan kita, yang menopang kita, sampai sampai mereka berkorban dan rela dikorbankan untuk manusia. Tetapi akankah kita memperlakukan mereka semena mena. Tidak. Mari kita membentuk dan membangun kesadaran, bahwa kita adalah bahagian dari mereka, dan mereka juga sangat membutuhkan kita. Belumlah terlambat untuk kita bangun kesadaran itu seraya memperbaiki diri dan cara memperlakukan bumi yang menjadi amanah kepada kita untuk dijaga dan dilestarikan. Apa yang terjadi di Aceh dan sebagian Sumatera Utara adalah fakta yang sangat otentik. Kenyataan yang harus kita terima dengan lapang dada. Tetapi jangan lupa pula, bahwa masih banyak wilayah dinegeri ini yang juga membutuhkan perhatian yang sama, yang diperlukan rasa solidaritas yang tinggi untuk membantunya. Sangat wajar kalau kita prihatian, dan memberi bantuan, namun jangan lupa bahwa disekeliling kita juga membutuhkan perhatian yang sama. Jangan sampai rasa keprihatinan digunakan secara berlebihan, atau ada yang memanfaatkannya disaat keadaan yang sempit untuk kepentingan pribadinya, atau mencari popularitas disaat memang sangat dibutuhkan kelapangan dalam memberi bantuan kepada saudara saudara kita. Kita harus bertawakkal dan berikhtiar dari balik kejadian ini. Kita membangun kesadaran bahwa kita dibutuhkan oleh saudara saudara kita yang lain di daerah kita. Mari kita memberi perhatian sama dan wajar kepada saudara saudara kita yang tertimpa bencana. Tak mengenal tempat atau apapun suku, agama dan adat sitiadat serta budaya mereka, tetapi sesungguhnya mereka membutuhkan kita dan kita mendorong saudara saudara yang tertimpa bencana dan cobaan untuk kembali berdiri tegak, memotivasi mereka untuk bangkit menata kehidupannya, seraya senantiasa kita mengambil pembelajaran dari setiap kejadian, besar atau kecil. Semoga kita menjadi bangsa yang senantiasa sadar dan memiliki komitmen untuk saling membantu, saling menolong, dan saling berkerja sama dalam kebersamaan dari satu kesatuan anak manusia yang mendamba keikhlasan. Bukan ingin dilihat dan dinilai, tetapi kita mengembalikan semua apa yang kita berikan kepada Sang Khaliq.
*
Minggu, 06 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar