APA JADINYA PEMILU PRESIDEN 2004?
Oleh: M. Ridha Rasyid
Kampanye telah dimulai sejak 1 Juni 2004, kemaren. Para kandidat presiden telah memulai aksinya setelah beberapa lama mempersiapkan taktik dan strateginya. Akankah rakyat akan mengubris dagangan yang dikampanyekan terbeli pada 5 Juli nanti. Akankah terjual dengan laris janji janji mereka yang dibungkus dengan apa yang disebut visi dan misi. Apakah sekian banyak komitmen yang telah diwacanakan akan benar benar diimplementasikan setelah mereka terpilih. Tidakkah akan berakhir pada tataran wacana yang hanya indah dibicarakan dalam tuturan kalimat kalimat bersayap, ataukah itu hanya bualan yang menjadikan kita tertidur nyenyak dan bermimpi indah di dalamnya atau terjadi sebaliknya. Sebuah mimpi buruk yang boleh jadi akan menjadi kenyataan. Atau barangkali pemilu presiden yang merupakan pemilu pertama kali kita melakukan pemilihan langsung, dan untuk pertama kalinya pula kita bisa memilih diantara 5 kandididat yang ada, yang selama kurun waktu enam dekade sebelumnya hanya memilih satu. Bukankah ini satu satunya pilihan yang, memang, tidak ada pilihan lainnya. Mungkin ini merupakan momentum tepat membawa negeri ini keluar dari krisis multi dimensi dan berkepanjangan, ataukah kita tetap berada bahkan lebih kritis lagi daripada hanya krisis belaka?
Sejumlah pertanyaan yang mengemuka serta sederet kekhawatiran yang mengedepan dan senantiasa menjadi pembicaraan hangat ditengah tengah masyarakat tanpa batas ruang dan waktu akan menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan yang menggembirakan kita semua, dimana kedaulatan rakyat telah kembali kepada rakyat, atau mungkin juga sebaliknya kedaulatan rakyat terbeli dengan harga yang sangat tidak wajar lalu memenjarajkan rakyat dalam kerangkeng ketertindasan oleh kekuasaan selama kurun lima tahun ke depan? Wallahu “alam bisshawab.
Kemana arah bola?
Nampaknya, dari kelima pasangan kandidat, Wiranto-Sholahuddin, Mega- Hasyim, Amien Rais-Siswono, SBY-JK, dan Hamzah Agum, merupakan pilihan dari hasil seleksi yang sesungguhnya memprihatinkan kita semua. Alasannya adalah, minus Wiranto, kesemuanya muncul oleh karena mereka pemimpin partai atau deklarator dari partai yang mengusungnya. Kita tidak memperoleh seorang pemimpin yang telah terseleksi cukup lama dan sarat oleh pengalaman serta pergumulan mereka dalam pemerintahan, meskipun secara pribadi track record mereka cukup mumpuni, namun bukan jaminan bahwa mereka dapat secara sungguh sungguh mengelola negara sesuai dengan azas azas yang disepakati oleh bangsa ini seperti tertuang dalam pelbagai peraturan perundang undangan yang harus mampu diimplementasi, dan membangkitkan emphati masyarakat untuk turut membantu pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan ( dalam aspek yang luas). Oleh karena itu, selaku pemangku kedaulatan rakyat harus secara cerdas memilih dan menentukan kandidat mana yang sesuai aspirasinya dan menjembatani aspirasi rakyat itu sehingga menjadi kenyataan, dapat dilaksanakan oleh sang pemimpin. Tetapi ternyata rakyat, baik di kota maupun didesa apatahlagi, kurang mendapat informasi tentang siapa dan bagaimana seharusnya ia menentukan hati nurani untuk kemudian dia menjatuhkan pilihannya kepada kandidat kandidat yang ada. Dalam beberapa diskusi yang saya ikut terlibat di dalamnya, menyimpulkan, pertama, proses demokrasi harus senantiasa ditumbuh-suburkan dengan berbagai cara yang juga demokratis, ke dua, rakyat harus diberikan informasi yang mengedepankan transparansi dalam mengeloborasi kredibilitas calon calon itu, sebahagian lainnya mengatakan bahwa sesungguhnya rakyat sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan, kendatipun sejumlah keterbatasan yang juga dipunyai oleh rakyat dalam mengekses informasi, ke tiga, jargon jargon politik dalam menyikapi eskalasi politik yang berkembang bahwa cenderung terjadi friksi semakin membuat rakyat sulit menentukan pilihan, sementara lainnya mengatakan rakyat akan mudah membaca trik trik politik itu. Orang barangkali melupakan bahwa tingkat pendidikan dari anak bangsa ini 70% hanya tamat dan tidak tamat SD. Ini sebuah kenyataan pahit ketika kita ingin mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat, sementara rakyat sendiri merasa tidak memiliki kedaulatan, ke empat, pelaksana pemilu, KPU, juga tidak memberi pembelajaran kepada rakyat untuk menerapkan sebuah sistem pemilihan umum yang lebih baik dari sebelumnya, walaupun ada yang mengatakan bahwa sistem pemilu ini relatif lebih baik di banding pemilu pemilu sebelumnya. Namun ada yang terlupakan, betapa banyak suara rakyat yang sia sia, betapa banyak orang yang apatis terhadap penyelenggaraan pemilu legislatif. Apakah nanti lebih banyak orang yang tidak mau peduli dengan pemilu presiden. Kembali terpulang di mana sebenarnya kedaulatan yang dimiliki rakyat itu.
Sejumlah asumsi yang disampaikan itu, memperjelas kepada kita kemana arah bola akan bergulir, memantul dan akhirnya menuju pintu istana. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi, pertama yang akan lolos ke putaran ke dua, kalau memang hanya 2 besar peraihan suara yang menuju putaran ke dua, yakni Wiranto-Sholahuddin, Amien Rais-Siswono, Alasannya adalah, bahwa Wiranto-Sholahuddin yang diusung oleh Golkar dan sejumlah partai yang tidak lolos electoral treshold akan meraih suara 31% dan Amien Rais 27%. Mengingat bahwa pemilih tradisional Golkar akan tetap solid, bahkan mungkin akan bertambah di banding raihan suara pemilu legislatif, sementara Amien Rais-Siswono dengan dukungan moral Muhammadiyah dan partai kecil lainnya yang menggabung ke PAN adalah sesuatu yang cukup signifikan untuk meloloskan Amien Rais-Siswono. Memasuki putraran ke dua, yang muncul sebagai pemenang adalah Wiranto-Sholahuddin, karena isu militeristik terbatas pada kalangan elite perkotaan, sementara didesa berfikir sebaliknya. Kalau hal ini terjadi, Wiranto Sholahuddin akan meraih suara 58%, Amien Rais-Siswono, 33 %, sisanya 9% batal dan tidak menggunakan hak pilihnya, ke dua, skenario berikutnya bisa terjadi kandidat yang lolos Mega-Hasyim, Wiranto-Sholahuddin, di mana Mega-Hasyim akan mendapat 29,7%, Wiranto-Sholahuddin 30,4%. Kalau Mega-Hasyim dapat mengerucutkan suara kaum nahdiyin, maka Mega Hamzah yang keluar jadi pemenang yang perolehan suaranya mencapai 60, 1% sementara Wiranto-Sholahuddin justru menjadi 26,5% di mana sisanya 13, 5% batal dan tidak memilih, ke tiga, yang maju keputaran ke dua Amin Rais-Siswono dan Mega Hasyim. Ini meruapakan pertarungan yang amat sengit, faktor militer tidak dapat dimainkan di sini, tetapi mengingat kinerja pemerintahan Mega, maka kemungkinan untuk lolos relatif lebih kecil di banding Amien Rais, dimana ia mendapat 54,3%, sementara Mega-Hasyim 41%, 4,7% tidak memilih dan suara batal.
Alasan mengapa Hamzah-Agum, maupun SBY-MJK tidak lolos putaran kesua, sebab Partai Demokrat yang mengalami surprise suara pada pemilu legislatif tidak cukup solid didaerah, kecuali Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Agum Gumerlar di Jawa Barat dan Hamzah di Kalimantan serta Jusuf Kalla di sejumlah daerah di Indonesia Timur, namun belum cukup untuk membuat mereka bisa melenggang ke putaran berikutnya, kecuali ada peristiwa cukup krusial yang membuat bisa lolos. Tetapi sayangnya, sangat mustahil terjadi.
Konklusi.
Pemilu Presiden yang kemungkinan besar terjadi dua putaran dan memakan energi serta konsentrasi pemerintah, membuat masyarakat semakin tidak jelas akan di bawa kemana. Mudah mudahan dapat melahirkan pemimpin yang baik, pemimpin yang tidak sekedar komit tetapi mampu mengejawantah apa yang menjadi dambaan, harapan serta cita cita masyarakat ke earah yang lebih baik. Rakyat merasa berdaulat dinegara sendiri, merasa aman dan bebas memanfaatkan ruang dan waktu untuk menjalankan aktivitasnya, serta bisa mensejahtera-memakmurkan rakyat, paling tidak rakyat dapat membeli apa yang menjadi kebutuhan dan kepentingannya. Masyarakat sesungguhnya tidak neko neko, tidak seperti penguasa yang terlalu banyak dan dengan rentang waktu yang cukup lama untuk duduk dalam kekuasaannya. Rakyat adalah rakyat, rakyat tidak ingin berkuasa, karena memang tidak mungkin rakyat berkuasa secara kolektif dalam pemerintahan. Ha…ha….ha. Itulah ketawa rakyat.
Minggu, 06 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar