NAKHODA MABUK
Oleh: M. Ridha Rasyid*
Syahdan, Presiden Nixon tergopoh gopoh masuk ke ruang oval Gedung Putih di Washington DC. Lalu, para staf ke-presidenan bertanya, “ada apa tuan presiden?”. Presiden menjawab. “apa kalian tidak membaca koran hari ini?” Para staf tercengang dan ada yang bergegas ke ruang baca seraya mencari dan membolak balik tumpukan berbagai media yang dilanggani oleh Gedung Putih. Kurang lebih setengah jam kemudian, staf tersebut terperangah dengan sebuah judul Watergate. Dengan seksama ia membaca dan menyimaknya. Dalam hati sang staf presiden itu membenarkan kegundahan dan kegalauan sang Presiden. Kemudian para staf presiden berkumpul mendiskusikan dan menyusun konsep keterangan pers yang akan disampaikan sang juru bicara Gedung Putih. Tapi bukannya jawaban yang disampaikan pihak Gedung Putih mereda, tapi justru semakin gencar pemberitaan, dan tidak hanya dimuat disatu koran, tapi orang orang mengutip informasi tersebut dari koran yang sangat berpengaruh di dunia, Washington Post. Akhirnya cerita tersebut tamat dan jatuh pula Presiden Nixon dari tampuk kekuasaan. Cerita Skandal Watergate pun berakhir.
Namun, sesungguhnya kepanikan pemimpin dalam seluruh tingkatan senantiasa menghiasi media massa. Hampir tiap hari kita membaca koran yang mengangkat berbagai permasalahan dan tanggapan sejumlah pihak yang menjadi obyek pemberitaan. Ada yang selesai, ada sekedar cooling down, kemudian menjadi hot kembali, ada yang menjadi bias dan semakin meruncing. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa menjadi pemimpin tidaklah mudah. Pemimpin yang selalu digelisahkan oleh pemberitaan media massa (dalam makna negatif), seringkali membuat manuver yang malah melebarkan masalah, menjadikan masalah tak berujung-tak rampung. Pembelaan diri maupun institusi sifatnya serta merta. Asal hantam kromo. Disitulah kita menilai kualitas kepemimpinan dari seorang pemimpin.
Pada peristiwa tenggelamnya sebuah kapal, nakhoda selalu memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera menyelamatkan penumpangnya, kemudian para awak kapal, dan terakhir nakhoda kapal itu, (itupun bila sempat). Dan sejatinya seorang pemimpin seperti itu. Namun cerita lain lagi, nakhoda kapalnya yang terlebih dahulu meninggalkan kapalnya sementara penumpang dan awaknya panik di atas kapal karena tidak ada yang mengarahkan. Cerita paling unik dan selalu berkesan, tenggelamnya kapal Titanic II yang sangat kesohor itu dan telah difilmkan dalam berbagai versi kacamata seknario dan sutradaranya. Tetapi yang paling apik kita jadikan contoh betapa tanggung jawab seorang nakhoda yang dengan tenang dan penuh kecermatan menghadapi situasi yang amat krusial, genting dan berupaya membuat berbagai alternatif solusi demi menyelamatkan kapal dan penumpangnya. Semua memiliki tanggung jawab yang sama, nakkhoda, awak kapal dan penumpang sendiri. Tidak saling menyalahkan, tidak saling menuding, tidak saling mencemooh, tidak saling mendamprat dan menghina orang daripadanya, (dalam makna positif).
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah tersebut dalam sisi perspektif pemerintahan dan menjadi substansi tulisan ini dapat diadopsi. Kita tahu, bahwa salah satu yang membuat pemerintahan kita tidak pernah maju, tidak memiliki kualitas yang cukup dalam menganeksasi persoalan yang muncul di tengah tengah majemuknya opini masyarakat dalam menyikapi kebijakan dan keputusan pemerintah, adalah kepekaan pemimpin pemerintahan menelaah, menyimak dibalik berita. Media massa sebagaimana fungsinya, seyogyanya mendapat perhatian khusus pemerintah. Pemberitaan sesungguhnya dapat menjadi kapital untuk mendewasakan pemerintah. Opini yang terbentuk atas informasi yang disajikan sebuah media massa bisa saja menjadi pembelajaran, pencerahan dan pendidikan agar mana pemerintah dituntut untuk bisa memberikan solusi. Jangan kemudian pemerintah menjadi subyek permasalahan yang dihadapi rakyat.
Pemimpin adalah Nakhoda.
Pemimpin dalam pemerintahan mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat dan Lurah, juga pemimpin yang ada dalam lingkup masyarakat, adalah inti (core) yang menentukan warna perjalanan kepemipinan yang diembankan kepadanya. Putih hitam-nya masyarakat banyak tergantung pada pemimpin, khususnya dalam pemerintahan. Kalau mau mengukur kondisi masyarakat suatu bangsa, tidak usaha jauh menelisik hingga ke sendi sendi kehidupan masyarakat, tetapi lihatlah bagaimana pola kepemimpinan pemimpinnya. Mau lihat suatu negara secara dekat pelajarilah karakter dan kebijakan pemimpinnya. Karena inti pemerintahan adalah pemimpin. Nah, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mempunyai kualitas komunikasi dan mentalitas yang tinggi. Pemimpin itu harus bermental baja, mau menerima kritikan, apakah itu konstruktif atau tidak. Apa itu asbun atau disertai analisis yang tajam. Pemimpin seharusnya bersyukur dan berterima kasih kepada sang pengeritik. Sang Pencela kebijakan harus diberikan acungan jempol karena dari sanalah kita tahu kualitas kebijakan yang kita amabil Saya senantiasa mengintrodusir bahwa pemimpin pemerintahan itu harus mengambil langkah langkah dalam mengkomunikasikan kebijakannya. Artinya, ketika kebijakan itu diambil tentu punya pertimbangan dan alasan yang cukup sehingga kebijakan itu akan diimplementasikan. Dalam hal ini pemimpin yang baik, harus mampu menjelaskannya secara gamblang kepada masyarakat, pada saat yang sama ,ketika sebuah kebijakan itu tidak dapat dipenuhi atau dalam artian belum mampu diaplikasikan menurut rentang waktu yang ditetapkan, pun harus bisa dijelaskan secara memadai. Oleh karena itu, dalam pandangan saya, bahwa pemimpin pemerintahan sepantasnya memahami kebijakan yang akan diambilnya, meskipun idenya bukan berasal dari dirinya. Ia harus belajar untuk itu dan bisa memberi penjelasan tentang latar belakang ditempuhnya kebijakan tersebut. Jangan kemudian, secara emosional menanggapi berbagai masukan yang ada. Ilustrasinya seperti ini, ketika SBY masih sebagai kandidat presiden, tingkat ekspektasi masyrakat demikian tinggi, maka tanggapan SBY tenang tenang saja. Maksudnya beliau senang dan bahagian melihat berbagai polling. Tapi setelah beliau menduduki kursi kepresidenannya beberapa bulan, hasil polling menunjukkan tingkat popularitasnya menurun, pada saat yang bersamaan, tingkat resistensi masyarakat meninggi, maka apa jawabnya, tidak ada urusan dengan polling. Kasarnya, tidak ada urusan dengan bagaimana cara masyarakat atau elemen yang ada di dalamnya terhadap tingkat popularitas yang menurun akibat berbagai kebijakan maupun statement yang cenderung memberi proteksi terhadap pemerintahan semata.
Oleh karena, sebagai yang telah dijelaskan di atas, nakhoda adalah pemimpin, sehingga bila pengaturan yang dijalankan nakhoda secara internal maupun eksternal tidak dapat diterima, atau ada sekelompok orang yang kemudian memberi apresiasi berlainan, semestinya tidak ditanggapi secara emosional, tapi berupaya memahami apa yang disampaikan lalu diberi penjelasan secara utuh sehingga tercapai hubungan yang sinergik antara sang pemimpin dalam pemerintahan dengan rakyatnya. Jangan malah menjadikan sang pengeritik sasaran tembak. Pemimpin seperti ini belum dewasa. Perlu dibimbing oleh orang orang yang punya kapabilitas yang cukup, tidak memiliki kepentingan pribadi yang menonjol, namun semuanya demi kepentingan pengabdian kepada pemerintahan dan masyarakat.
Bila nakhoda atau pemimpin dalam pemerintah akibat kegalauan dan kegelisahan maupun kerisauan yang dihadapi itu ditanggapi dengan hati panas dan pikiran yang tidak jernih akan membuat penumpang atau rakyatnya menjadi mabuk. Mungkin bukan mabuk laut, tapi mabuk darat, yang menurut hemat saya jauh lebih berbahaya, dan akan berkibat pada tinbdakan anarkhis yang dapat dijalani dibalik ketidakpuasaan penerimaan kebijakan oleh rakyatnya. Jangan sampai terjadi seperti ini. Wahai para pemimpin, berhati ikhlaslah kalian, berpikiran dinginlah anda, dan jadikan komunikasi dengan rakyat sebagai media untuk memberi pemahaman kepada rakyat. Jangan malah pemimpinnya mabuk, nakhodanya yang mabuk -- rakyat malah yang memiliki kesadaran tinggi. Sungguh celaka pemimpin seperti ini, sebab cepat atau lambat ia akan jatuh, ia akan ditinggalkan oleh rakyatnya. Sekali lagi, sejatinya pemimpin yang menganggap dirinya adalah bahagian dari rakyat, menyatu hati dan pikirannya dengan rakyat sehingga tidak sepantasnya menghadapi rakyat dengan marah. Karena itu sesungguhnya ia marah pada dirinya sendiri jika ada pemimpin yang melakukan seperti ini. Semoga Tidak. Insya Allah.
Minggu, 06 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar