Minggu, 06 Januari 2008

SIAP MENANG, TIDAK SIAP KALAH
Oleh: M. Ridha Rasyid
Pesta demokrasi lokal baru saja usai. Sejumlah daerah kabupaten/kota telah melaksanakan pemilihan kepala daerah langsung termasuk di 10 kabupaten di Sulawesi Selatan. Kalau sebelumnya semua kandidat yang difasilitasi KPUD setempat mendeklarasikan Siap Menang Siap Kalah akan diuji. Benarkah mereka siap menang? Apakah tidak akan terjadi euforia yang berlebihan, pesta berkepanjangan atas kesyukuran mereka memenangkan pertarungan yang sangat melelahkan, menguras tenaga, mengeruk kocek lebih dalam. Mungkin tidak sedikit kandidat yang mengutang ke koleganya, dibantu oleh para pialang proyek setelah yang bersangkutan terpilih dengan memberi piutang, atau apapun cara yang digunakan untuk mendapatkan modal. Maklum semua dengan uang. Untuk dapat diusung oleh partai politik harus dengan “membeli”, mencari pendukung juga dengan fulus, menghadirkan sejumlah artis ibukota juga dengan uang, untuk membeli ornamen kampanye juga dengan duit. Yang menurut para pengamat ekonomi dan keuangan menjelang hingga hari H pilkada tidak kurang dari 11 triliun uang yang beredar dalam waktu bersamaan di semua daerah yang melakukan pemilihan kepala daerah. Kesiapan menang ini, tidak tertutup kemungkinan akan lebih menghangatkan daerahnya. Akan muncul pemimpin baru yang terpilih dengan pemilihan langsung, meskipun itu tidak bisa diyakini sebagai wujud demokrasi yang sesungguhnya. Namun sebagai sesuatu yang baru, ada ada saja kekurangan, kelemahan, diskriminasi, keberpihakan penyelenggara, atau bentuk intrik untuk memenangkan sang calonnya. Tetapi itu, sah sah saja. Tidak ada persoalan sepanjang tidak menyalahi aturan.
Siap menang dapat diartikan secara positif bahwa yang bersangkutan telah mempersiapkan diri untuk segera melakukan rekonsiliasi, mengajak semua pihak, termasuk dari lawannya sesama calon, untuk bekerjasama, menenangkan masyarakat dengan kesejukan bahasa yang dituturkan dalam setiap pernyataannya, menjauhkan arogansi, kesombongan, kepongahan. Menyusun strategis pelaksanakan visi dan misi, dan menyatukan persepsi dengan semua aparatur pemerintahan yang akan dipimpinnya. Itu yang dimaksud siap menang. Bukan pesta pora, bukan pula menindas yang kalah, bukan mendiskreditkan mantan pesaing. Bukan itu. Kalau itu yang dilakukan tidak tertutup kemungkinan mereka akan dijatuhkan oleh pesaingnya melalui percaturan politik yang keras, tidak tertutup kemungkinan people power, gerakan dan desakan massa untuk mundur. Dan itu sangat dimungkinkan. Makanya, jangan senang dulu. Jangan mengira akan menjadi pemimpin selama 5 tahun. Itu hanya masa jabatan tetapi siapa tahu anda akan turun dalam perjalanan, akan dipaksa meninggalkan jabatan karena ketidakberpihakan kebijakan yang diambil kepada rakyat. Rakyat yang berdaulat, juga rakyat yang dapat kedaulatan itu dari tangan anda. Ingat itu !










Tidak Siap Kalah
Saya termasuk orang yang sedikit miris dengan kata siap kalah. Karena sesungguhnya sejatinya manusia tidak pernah mau kalah. Ini sangat manusiawi, natural, alami. Kekalahan kadang membuat orang malu. Kekalahan kadang membuat orang kalap. Kekalahan sering diartikan tidak berdaya. Kekalahan adalah menunjukkan kelemahan orang tersebut. Kekalahan pula mensejajarkan sebagai pecundang. Gelaran seperti ini membuat emosi orang tidak terkendali ketika mengalami kekalahan. Terlebih lagi di Indonesia, di Sulawesi Selatan. Kekalahan dalam pemilihan kepala daerah melalui perwakilan rakyat tidak sama dengan kalah melalui pemilihan kepala daerah langsung. Dalam pemilihan kepala daerah di era penentuannya melalui DPRD semua kamuflase, semua ditentukan. Itu sandiwara, dagelan, sinetron yang happy ending. Yang lain adalah pelengkap penderita semata mata. Tidak lebih kayu bakar, meminjam istilah alm Baharuddin Lopa. Sekarang situasinya berbeda. Betapa banyak uang keluar, tenaga dan waktu yang diperas, belum lagi pemberitaan yang secara psikologis bisa menjadikannya stress, bahkan depresi. Terlebih lagi dengan pengaturan dalam undang undang, seseorang dinyatakan menang jika mencapai di atas 25 %, itu kalau 3, 4, 5 kandidat. Tingkat legitimasinya sangat rendah, rentan untuk diguncang. Friksi yang timbul akan dijadikan mesiu untuk melawan penguasa yang kurang legitimated. Lalu bagaimana sesungguhnya yang dimaksudkan siap kalah, karena apa yang disajikan di atas orang yang tidak siap kalah. Mudah mudahan saja tidak terjadi. Untuk menjadi siap kalah, maka hendaknya, pertama, jadikan pemilihan kepala daerah langsung ini sebagai uji diri atas kemampuan yang dimiliki dalam meraih simpati rakyat, jadikan ini buah dari pekerjaan yang belum maksimal. Perlu kerja keras. Evaluasi diri bersama dengan tim yang tidak sukses itu, bahwa kita memiliki kekurangan, kelemahan dan boleh jadi cara yang kita gunakan kurang diapresiasi rakyat, atau boleh jadi rakyat tidak ngerti pesan pesan yang disampaikan, ke dua, menyatakan lawan kita lebih baik adalah sifat pejantan tangguh. Orang yang mengakui kekalahan dan menerimanya dengan penuh perhitungan atas apa yang dimiliki sesungguhnya lebih kuat dari sang juara, sang pemenang, ke tiga, menghindarkan diri dari masukan masukan, bisikan bisikan yang justru akan menyeret kepada perbuatan nista, perbuatan yang oleh rakyat akan menambah kebenciannya kepada kita, ke empat, berusahalah, dan bayarlah utang utang atas pengeluaran selama ini, karena itu tidak akan pernah selesai sepanjang belum dilunasi, kelima, dan yang paling penting lagi sikap optimisme, pragmatis, serta elegan dalam menapak hari esok untuk kembali menguji diri dihadapan rakyat akan membuat rakyat emphati, terlebih jika mampu memberi warna perubahan, warna pembaharuan, sehingga tercurah harapan kepada anda di masa mendatang akan memberi nuansa positifnya anda berfikir dan bertindak untuk hari esok. Insya Allah.

Tidak ada komentar: