Minggu, 06 Januari 2008

KEMUNAFIKAN DALAM POLITIK
Oleh:M.Ridha Rasyid

“Persemaian yang sangat subur bila bersentuhan dengan bibit bisa langsung berproses sebagai kecamba, tidak peduli mungkin yang menjatuhkan bibit itu hanya seekor kelelawar” Kalimat yang terkutip ini sungguh sangat sarat dengan makna, mengandung nilai filosofis yang dalam, menyentuh hati sanubari bagi orang yang mau berfikir. Saya mencoba menorehkan arti dari kalimat ini, bahwa orang yang memiliki kepekaan dalam membaca dan menyimak dinamika yang terjadi disekelilingnya akan senantiasa tersentuh dengan apa yang seharusnya dilakukan untuk memperjuangkan kebenaran, meskipun itu berasal dari orang papah, orang ajam, orang badui yang berbaju compang camping, tapi memiliki hati dan pikiran yang jernih. Bukankah kita lahir dengan telanjang tanpa sehelai benangpun melekat dalam tubuh? Kemudian berpakaian dan matipun dengan berkafan. Mengapa kita tidak memetik pelajaran dari sana?. Dan, kemudian ia menempatkan dirinya dalam sebuah bejana kehidupan untuk berbuat sesuatu bagi orang lain. Bukan sekedar untuk kepentingan dirinya. Tidak menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Tidak menyingkirkan kawan yang selama ini membantunya, menolongnya untuk meraih sukses. Kalimat sederhana di atas, berarti pula, berikanlah kesempatan kepada orang secara proporsional dan profesionalisme mengedepankan atas apa yang akan dikerjakannya, karena sesungguhnya itu akan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Dalam arti lain, bahwa orang yang tahu isi dari apa yang seharusnya dikerjakan, akan dengan segera merealisasikannya demi sebuah keadaan yang lebih membaik dibanding keadaan yang terjadi kini.

Kiprah Politisi dan Partai Politik
Para politisi dilahirkan untuk membangun suatu wilayah dengan kekuasaan yang dimilikinya melalui proses demokrasi. Melalui institusi yang ada dalam pemerintahan dan negara, politisi memainkan peran yang sangat vital serta menentukan sehingga sejatinya politisi tidak saja berada dalam tataran partai politik, juga menjadi mediator atau jembatan rakyat menuju terwujudnya masyarakat sejahtera, masyarakat yang merasa dihargai dengan kedaulatan yang dimilikinya untuk selanjutnya diembankan kepada para politisi. Demikian halnya dengan partai politik sebagai wadah berhimpunnya para pekerja politik untuk mendapat kekuasaan. Perebutan kekuasaan secara demokrasi yang difasilitasi partai politik seyogyanya menjadi pembelajaran, pencerahan, pendidikan menuju terciptanya budaya politik yang sehat, beradab, beretika dan positif. Namun yang terjadi sebaliknya. Ruang dan kesempatan yang diberikan pemerintah untuk membentuk partai politik pasca tumbangnya rezim orde baru menjadi euforia tanpa pernah mau belajar dari pengalaman dan sejarah kenistaan yang pernah dibuat partai politik sebelumnya, bahkan yang ada mengulang sejarah bobroknya perilaku dan pengelolaan partai politik. Pembenaran terhadap kebijakan, tindakan maupun keputusan partai tidak mencerminkan memperjuangkan aspirasi masyarakat, justru yang ada mengedepankan kepentingan partai ataupun pribadi yang meng-atas namakan rakyat (rakyat yang mana?) wajah buram itu harus diubah. Caranya?
Pertama, hendaknya dalam merekruit anggota maupun pengurus partai politik dilakukan secara selektif dan telah melalui proses yang cukup panjang. Karena dari pengalaman dan pengetahuan serta jenjang pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan akan membuat orang yang akan menerjunkan dirinya secara total dalam partai akan menjadikan partai semakin kuat. Selama ini, kutu loncat bergentayangan di sekitar partai. Kalau ada partai politik yang memenangkan pertarungan atau salah satu kadernya duduk dalam kekuasaan, maka orang orang akan melirik partai tersebut tanpa dilakukan kaderisasi yang memungkinkan seseorang dapat ditempatkan sebagai salah satu pengurus. Bajing loncat politik ini, sesungguhnya tidaklah arif untuk menempatkannya dalam kepengurusan, sebab bisa mengakibatkan pengikisan moral dan kepercayaan kepada partai politik tersebut untuk jangka panjang.
Kedua, kemandirian partai politik, termasuk dalam pendanaan perlu segera direaliasasi, jangan kemudian senantiasa disediakan dana pembinaan, dana peraihan suara yang dinilai dengan uang. Kreatifitas serta prakarsa mendanai partai politik-nya, akan memunculkan berbagai momentun penting dan dapat dihargai oleh masyarakat, serta kesetiaan para anggotanya memungkinkan partai politik itu menunjukkan kiprahnya dalam semua era dibalik dinamika yang berkembang disekelilingnya. Contoh yang patut diikuti bagaimana Partai Demokrat dan Partai Republik di Amerika Serikat menyemai anggotanya agar tidak keluar dari partai, pada saat yang sama, ruang kebebasan dalam mengusulkan serta mencalonkan anggotanya untuk diusung dalam percaturan kekuasaan benar benar melalui penjaringan yang secara ketat yang disadarkan kemampuan, komitmen seseorang untuk mengangkat citra partainya dan berupaya memenangkannya dalam melawan partai lainnya secara fair dan konsekuen seyogyanya dapat menjadi pembelajaran bagi pengurus partai politik ke depan.
Ketiga, agar dalam mengikuti perjalanan kekuasaan yang diamanahkan rakyat ke partai yang memenagkan pemilu, hendaknya partai lain berposisikan sebagai partai oposisi, penyembang, bukan partai provokator yang akan merecoki jalannya pemerintahan secara brutal, tidak beradab, menghalalkan segala cara ataupun cara cara yang tidak konstitusinal, beretika dan mengawal kestabilan dan kemanan masyarakat.
Kemunafikan dalam Politik
Ini merupakan fenomena menarik, dan barangkali suatu kelaziman yang dipaksakan oleh kondisi. Bahwa dalam partai politik dan kekuasaan di dalmnya tidak ada teman sejati dan tidak musuh yang abadi, semuanya bergantung pada kepentingan. Artinya bersifat munafik dalam partai politik adalah sesuatu yang sah sah belaka, sehingga tidak perlu dipersoalkan. Kalau hal ini menajdi sesuatu yang seolah olah difalsafahkan oleh penguasa partai, sungguh sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Bilamana kita mengerti sejatinya partai politik dan seharusnya menjadi bagian dari partai politik, maka kawan tetap kawan namun perlu melakukan rekonsiliasi dan komunikasi dengan lawan politik. Orang berseberangan pandangan dengan kita merupakan kelaziman. Jangan lalu, kawan yang telah bersusah payah mendorong dan membantu untuk meraih suskes kemudian ditinggalkan begitu saja, atau bahkan dijadikan musuh dalam selimut karena adanya kekhawatiran bahwa dia memiliki kepentingan politik yang boleh jadi akan mengganggu jalannya kekuasaan yang ada dalam genggamannya. Waspada adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan berlebihan ketika penguasa partai itu dapat memahami dinamika dan kemajemukan pola pikir dari orang orang yang ada disekitarnya.
Untuk itu, menghindari terjadinya kemunafikan dalam politik, hendaknya melakukan, pertama, konsistensi orang partai dalam memelihara pertemanan, persahabatan dengan orang orang disekelilingnya hendaknya menjadi hal yang urgen untuk selalu dipertahankan, kedua, konsekuen menjalankan kebijakan yang termuat dalam visi dan misi sebagaimana telah dipaparkan dimuka publik secara bertahap dilaksanakan. Selama kurun waktu setelah diwajibkannya memuat visi dan misi bagi seorang kandidat penguasa dalam pemerintahan, tidak seorangpun bisa melaksanakannya dengan baik, bahkan tidak sedikit dari mereka meninggalkannya, yang dilakukannya berdasarkan masukan pihak tertentu yang punya kepentingan atau kebutuhan sesaat sang pemimpin memenuhi hasrat nafsu dan emosinya belaka. Visi dan misi tidak lebih kumpulan kata kata indah diatas lembaran lembaran kertas yang disusun para ahli kemudian dinafikan begitu saja, ketiga, kemampuan mengelaborasi keragaman pandangan, pikiran serta masukan dari berbagai anasir yang ada dalam masyarakat sesungguhnya mememperkaya khasana dan kedewasaan pemimpin menyikapi kebutuhan, kepentingan rakyat.
DPRD Tidak Sebagai Penghambat Invvestasi
Ini kasus yang menarik dengan kiprah yang ditunjukkan oleh DPRD Kota Makassar, yang senantiasa memberikan sorotan atau kritikan yang “sekedar” menghangatkan suasana, tetapi celakanya, ujung ujungnya “lagu setuju” nya –Iwan Fals yang senantiasa menghiasi. Kalau hal seperti ini selalu dipertotonkan tidak tertutup kemungkinan calon investor yang akan masuk ke kota Makassar akan berfikir beribu kali baru mau merealisasikannya, oleh karena banyaknya tekanan yang dipoerlihatkan, bukan saja dari birokrasi yang panjang dalam mengurus perizinan, cost yang tinggi, tingkat kemanan yang rendah tetapi juga tidak adanya kepastian hukum. Mestinya, sebahai lembaga yang mewakili asprasi serta kepentingan masyarakat (termasuk di dalamnya pengusaha), malah anggota dewan yang terhormat itu, ikut memberikan tekanan tekanan yang kurang berdasar. Seyogyanya, ketika pengusaha mendapatkan hambatan ataupun ketidak-jelasan penyelesaian urusan mereka oleh pihak penguasa, maka anggota legislatif harus tampil didepan memperjuangkan hak hak pengusaha (masyarakat) , jangan justru terjadi sebaliknya. Pemerintah kota telah memberikan izin operasional, lalu anggota dewan “yang mengobok-obok” pengusaha. Ini sangat aneh dan dapat dikategorikan menghambat investasi.
Musuh tersbesar dalam kepemimpinan pemerintahan dan partai politik adalah bersemayamnya kemunafikan. Olehnya wahai para penguasa partai politik maupun pemerintah, kikis habis karaketer serta sikap berwajah seribu, jika sekiranya mau sukses dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Semoga.

.

Tidak ada komentar: