“ONANI” DALAM PEMERINTAHAN
Ada pernyataan menarik yang disampaikan oleh Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, dalam obrolan santai diruang Humas Pemkot Makassar. Ia mengatakan, “saya tidak ingin dikesankankan bahwa apa yang dilakukan pemerintah kota hanya untuk demi kesenangan Walikota selaku penanggung jawab pemerintahan, tetapi harus bersinergi dengan manfaat yang dapat dilihat, dirasakan dan diakses langsung oleh masyarakat”. Dalam perspektif pemerintahan, ini menjadi sebuah fenomena menarik, ketika seorang aparatur pemerintahan memiliki kepekaan seperti yang dinyatakan Ilham, oleh karena hanya segilintir pegawai yang mengabdikan dirinya dalam pemerintahan yang memiliki kepekaan seperti itu. Pada umumnya abdi pemerintah memang seolah olah ber”onani”. Artinya rasa enak, nyaman, sejahtera, makmur itu hanya sampai di batas ruang pemerintahan. Masyarakat tidak terlalu jauh dan signifikan merasakan dampak langsung sebuah kebijakan, bahkan tidak sedikit kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah justru “menyengsarakan rakyatnya”. Kalau seluruh aparat pemerintah, mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan dan unit kerja lainnya dalam lingkup pemerintahan menghayati makna yang dikandung dan kesejatian arti kehadirannya dalam pemerintahan bukan tertutup kemungkinan bahwa kesejateraan dan kemakmuran rakyat itu tidak sekadar “diawang awang” atau hanya ilusi belaka. Banyak praktek penyelennggaraan pemerintahan yang seyogyanya menjadi teladan bagi setiap abdi rakyat itu. Cuma sayang dan celakanya, kita tidak mengambil hikmah dari perjalanan penyelenggaraan pemerintahan yang berhasil mendorong partisipasi masyarakat, pada saat yang sama, kesejahteraan rakyat itu diperoleh dari kebijakan, program dan kegiatan pemerintah yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan rakyatnya. Juga banyak contoh yang seharusnya menjadi pembelajaran ketika diktatorisme yang memimpin sebuah pemerintahan. Korupsi, kolusi, nepotisme dan berbagai bentuk penyalagunaan kekuasaan itu berlangsung dengan demikian vulgarnya,, namun rakyat hanya dapat “diam-membisu”. Tetapi ingat, dalam kebisuan dan ke-diam-an masyarakat itu, bukan tidak mustahil akan menjadi bom waktu yang sewaktu waktu timbul menjadi people power, ketika pemerintah terus melakukan pembiaran dan asyik “berasyik-masyuk” dengan iluasi kenikmatannya sendiri. Implikasinya sangat jelas, pemerintah tidak dapat mengukur sejauh keberhasilan yang diraih itu mendapat apresiasi masyarakat. Kesenjangan yang semakin dalam. Jurang pemisah siempunya dan simiskin papa akan semakin jelas. Intimidasi atas manusia akan saling dan semakin sering terjadi. Penegakan hukum boleh jadi hanya lip service belakang. Semua itu kuncinya ada dalam pemerintahan. Inti pemerintahan adalah kepemimpinan. Kepemimpinan itu adalah bagian utamanya adalah pemimpin. Pemimpin yang memiliki kecerdasan, kepekaan, wisdom and wise, kredibilitas dan kapabiltas dalam menyelnggarakan pemerintahan sangat menentukan hitam-putihnya masyarakat. Baik-buruknya tatanan sosial kehidupan bermasyarakat. Pada saat yang berbarengan,warna dan corak pemerintahan sesungguhnya itulah warna sejatinya masyarakat. Kalaupun ada yang berbeda dari suatu pemerintahan yang “jelek”, maka rakyat itulah yang berusaha “lari” dari pemerintahan yang penuh nokttah kehitaman. Namun sangat sulit terjadi, ketika pemerintahannya dipimpin “orang yang baik” lantas rakyatnya “beringas” menerima kebaikan itu. Kalau ini terjadi berarti rakyatnya yang “sakit” Untuk menyembuhkan dan memulihkannya, diagnosa harus tepat. Pemerintah perlu evaluasi diri. Semoga rakyat dan pemerintah berjalan seiring senada, mengerti peran dan fungsi masing dan keberadaannya menjadi sebuah “berkah” bagi keduanya. Inilah pemerintah dan rakyat yang sesungguhnya. Negara, daerah, wilayah yang paling rendah sekalipun akan makmur, sejhtera, aman dan tenteram, dan memiliki lingkungan yang sehat nan indah. Semoga inilah yang menjadi dambaan kita semua. Ini bukan khayalan, tetapi bisa diwujudkan, seandainya kita memahami arti sejati kehadiran pemerintah di tengah tengah rakyat yang mau menerima pemerintah.
Kamis, 27 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar