Kamis, 27 Desember 2007

BERKACA DI CERMIN RETAK
Oleh: M. Ridha Rasyid*

Tak terasa perjalanan waktu yang demikian cepat, telah membawa negara Republik Indonesia memasuki usia kemedekaannya yang ke 60 Tahun. Ibarat manusia yang telah berumur sekian akan membuatnya semakin matang dalam berfikir, bertindak, mengejawantah kebijakannya. Usia yang untuk negara Asia kita termasuk yang sudah cukup lama menikmati kemerdekaan itu. Malaysia, Singapore, Vietnam, Kamboja, Birma, Brunie Darussalam, Philipina, India, Pakistan, Afghanistan, Srilanka, kita termasuk negara penikmat awal kemeredekaan dibanding sejumlah negara di Asia, tapi celakanya, kita tidak lebih baik dari mereka. Kita di bawah Vietnam sebagai negara tujuan investasi, pendidikan Vietnam di atas kita kualitasnya, padahal baru menikmati kemerdekaan tidak lebih beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah baru sekitar dwi windu, jangan bandingkan dengan Malaysia, Singapore, Thailand, kita masih jauh terkebelakang. Ada apa di balik semua itu?
Dua tahun yang lalu, di harian Pedoman Rakyat, saya pernah membaca sebuah artikel yang sangat menarik yang ditulis kakanda H.B Amiruddin Maula. Judulnya Berdiri di Kaca Besar Yang intinya bahwa untuk tahu tentang diri sendiri maka berdirilah di depan cermin yang akan memuat secara utuh diri anda, atau sosok kita dengan segala kekurangan dan kelebihan yang melingkupi. Artinya, Jikalau kita ingin menilai seseorang kita tentu saja akan lebih berhati hati dalam menyoroti pihak di luar diri kita. Artinya, siapapun bisa mengeritik, tapi hendaknya kritikan itu disampaikan secara sopan dan santun, agar obyek yang dikritik dan subyek yang mengkritik sama sama bisa memahaminya dan mau menerima untuk selanjutnya melakukan perbaikan maupun perubahan substansi kritikan tersebut.
Namun, kondisi yang berkembang kemudian, bahwa seringkali orang yang dikritik dan mengeritik sama ngototnya, sehingga tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuka ruang secara luas untuk melakukan debat kusir yang tak ketahuan ujung pangkalnya. Lebih ekstreem lagi, sebagaimana judul di atas, Berkaca di Cermin Retak, dapat dimaknakan, bahwa ketika kita berdiri di depan cermin yang sudah retak, maka sangat tidak mungkin kita melihat sosok yang utuh dari orang tersebut, padahal sesungguhnya ia tidak bercacat sedikitpun secara fisik. Tapi bukan itu arti yang akan kita kupas dalam tulisan ini, melainkan kita akan analog-kan pada perspektif pemerintahan yang berfokus pada pengambilan keputusan ataupun kebijakan dari pemimpin pemimpin dalam pemerintahan.
Lebih jauh, bahwa sebagai seorang pemimpin tentu banyak masukan yang disampaikan banyak orang dengan segala kepentingan yang mengitarinya, sehingga bila tidak berhati hati dalam memfilter in put tersebut justru akan melahirkan keputusan yang compang camping. Ketika seorang pemimpin yang ingin berbalas jasa atas bantuan beberapa orang yang telah membuatnya sukses, dan menjadi panutannya untuk didengarkan petuah petuahnya, padahal yang bersangkutan tidak memiliki penguasaan material yang disampaikannya, maka sangat mungkin kebijakan yang diambil itu, tidak lebih sama dengan apa yang diinginkan si pemberi masukan, akibatnya akan merugikan sang pemimpin. Atau seringkali karena rasa segan yang begitu kuat mengingat bahwasanya ia telah banyak menolong kita, dan kita memiliki kekuasaan untuk mengambil kebijakan sesuai pendapat beberapa orang yang telah memberi sumbangsih atas keberhasilan yang kita raih lalu serta merta membalas jasa mereka dan tidak melalui pendalaman serta analisis yang tajam, impac-tnya kebijakan itu tidak lebih hanya untuk sebuah kepentingan sempit yang harus didahulukan yang membuat banyak pihak yang merasa dirugikan atau tidak adil dalam menerapkan sebuah ketentuan yang sesungguhnya untuk kepentingan publik yang harus dikedepankan. Banyak contoh kebijakan kebijakan yang dipengaruhi oleh pihak atau beberapa gelintir yang tidak mengetahui duduk permasalahannya secara komprehensif yang diimplementasikan, sementara peran sang pemimpin itu tidak lebih menandatangani apa yang menjadi kebutuhan sang pembisik. Atau Berkaca di Cermin Retak bisa pula dimaksudkan sebagai kebingungan sang pemimpin yang mendapati masukan masukan yang disiodorkan dalam keadaan mentah, kemudian serta-merta di putuskan. Dampak yang ditimbulkan sungguh sangat mengenaskan publik yang akan menjadi obyek kebijakan atau pengambilan keputusan atas suatu kebijakan.
Oleh karena itu seyogyanya kita ingin menyatukan cermin yang retak itu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam memandang setiap persoalan yang ada dan sedang dihadapi, agar dalam membuat suatu kesimpulan maupun keputusan telah dipertimbangkan, dikaji dan melalui diskusi dengan melibatkan banyak unsur yang diharapkan melahirkan keparipurnaan sebuah keputusan. Coba kita lihat dampak kenaikan BBM tahap pertama yang dilakukan pemerintah! Ternyata, efek yang ditimbulkannya sungguh sangat luas. Tadinya kita memperkirakan yang akan terjadi hanya gejolak dari rasa keterkejutan masyarakat atas kenaikan harga harga yang mengikuti penyesuaian harga BBM, tersebut. Nyatanya, tidak sesederhana itu, ia membuka kebusukan kebusukan yang ada dan dipelihara selama ini oleh Pertamina yang di back up oleh penguasa yang punya pengaruh besar. Baru terbuka betapa manajemen distribusi maupun manajemen internal dalam tubuh Pertamina tidak dilaksanakan secara profesional, betapa Pertamina tidak lagi dipercaya oleh negara produsen BBM di luar negeri karena seringnya Pertamina mengemplang pembayaran, kurangnya uang mereka yang seharusnya dikucurkan untuk membeli minyak. Ini semua seperti buah simalakama. Tidak dinaikkan harga BBM, beban APBN sangat rentan untuk menjadikan negara ini menjadi pailit karena tidak mampu membayar utang yang bukannya semakin berkurang malah semakin menumpuk karena kita mencari dan mendapatkan utang baru. Nah, bagaimana jika pemerintah dan Pertamina menaikkan BBM jilid II. Apakah ini telah dipertimbangkan bias dari kenaikan itu, bagaimana dengan skema subsidi langsung yang akan diberikan kepada rakyat. Apakah tidak akan sama pada saat kenaikan BBM jilid pertama, di mana dengan sangat meyakinkan para menteri di bidang perekonomian memberikan jaminan terhadap penyaluran dana subsisi kepada rakyat di sektor pendidikan dan kesehatana. Tapi apa lacur yang terjadi, pendidikan semakin mahal yang dirasakan masyarakat, kalaupun kemudian keluar peraturan Mendiknas, itu sudah terlambat, orang tua siswa sudah terlanjur membayarkannya, karena diwajibkan dan tentu saja anaknya perlu disekolahkan.. Subsisdi kesehatan, toh juga tidak terkucur, berbagai penyakit pasca kenaikan muncul yang tidak lain membuka borok pemerintah selama ini yang sangat minim perhatiannya disektor kesejhatan terlebih lagi jika berbicara pelayanan kesehatan. Kita pernah membaca dan melihat ketika seonggok orok yang ditolak tujuh rumah sakit karena sang orang tua tidak punya uang untuk membayar rumah sakit yang tidak berperikemanusiaan itu. Sungguh sangat dipertanyakan orang orang yang mengurus pemerintahan sejak zaman orde baru hingga orde reformasi yang saya tidak tahu yang mana sebenarnya yang telah direformasi sementara gaya, karakter dan sikap kepemimpinan orang orang dalam pemerintahan itu idem ditto.
Mari kita semakin arif menyatukan serpihan serpihan cermin yang retak itu, mari kita kumpulkan semua permasalahan yang menaungi bangsa ini agar kita tidak semakin tenggelam dalam sebuah kenistaan yang hina di banding dengan bangsa lain yang baru tumbuh. Mari kita berani mengevaluasi kebijakan kebijakan wahai orang orang yang memiliki legitimasi rakyat untuk memimpin bangsa ini untuk secara bertahap dan sistemik keluar dari belenggu kemelaratan yang semakin menguat. Mari kita satukan potongan potongan cermin itu untuk kita menjadikannya satu, kita kumpulkan seluruh potensi yang ada untuk memenuhi harapan sipemberi kedaulatan kepada pemerintah agar dijalankan secara proporsional dan profesional dan tidak sekedar diucapkan, dijadikan bahan sambutan dalam setiap peresmian proyek ataupun disetiap acara seremonial, tapi benar benar kita ingin mewujudkan komitemen yang selama telah terlanjur didengarkan rakyat. Kita tidak mungkin lagi hanya terlena oleh pujian sesaat. Yang perlu bagi rakyat bagaimana ia dapat melanjutkan kehidupannya dan berusaha secara pasti dan mendapatkan keamanan yang cukup dalam menapak dan menaaplikasikan kreatifitasnya untuk bisa mengangkat harkat dan martabat dirinya, mengangkat derajat anak bangsa ini sama dengan bangsa bangsa yang telah bercermin dikaca yang utuh dan tidak akan retak oleh sebuah kepemimpinan tirani, otokrasi, feodal dan sejenisnya. Demokrasi dalam kepemimpinan bisa berarti bahwa kebijakan yang diambil oleh sebuah pemerintahan bertitik tolak dari apa yang diinginkan rakyat, apa yang dbutuhkan rakyat. Jangan sekali kali berkaca di depan cermin yang retak lagi. Tapi marilah kita bercermin di Kaca Besar, Kaca yang utuh, bukan di kaca yang buram. Insya Allah negara ini secara bertahap akan keluar dari krisis multi dimensi bilamana ada kesatuan pandangan yang sama, bekerjasama untuk bersama sama mengambil peran sesuai kemampuan masing masing. Insya Allah., amin. Selama HUT Kemerdekan RI ke 60
*M. Ridha Rasyid, Praktisi dan Pemerhati Pemerintahan

Tidak ada komentar: